PROF. SYAIKH
MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Kelompok
Mata Kuliah : Perkembangan Pemikiran Modern dalam Dunia Islam
Dosen Pengampu: Dr. H. Abdul Basit. M.Ag
Oleh
:
Rizki
Nur Sabandi (1323301012)
Rizki
Hidayat (1323301030)
JURUSAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
PURWOKERTO
2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kajian
tentang konsep pendidikan Islam memang menarik didiskusikan dan dibahas secara
mendalam, walaupun hal itu beberapa kali telah diangkat menjadi tema kajian
oleh beberapa tokoh pemikir. Di hadapan dunia akademis, tema-tema seperti itu
terkesan sudah “sangat sering”, namun dinamika pemikiran intelektual selalu
tidak pernah puas dan final akan kajian yang serupa. Memusatkan seputar kajian
konsep pendidikan Islam dan islamisasi pengetahuan dilatar belakangi oleh rasa
keingintahuan akan sebuah pemahaman yang relatif komprehensif, mendalam, serta
berusaha mengelaborasi pemikiran-pemiran yang ada ke dalam konteks pergumulan
pemikiran sekarang yang jauh lebih dialektik.
Penulisan ini menggunakan
pendekatan deskriptif-analitis tentang pemikiran dari kedua pemikir di atas.
Adapun metodologi dan sistematika penyajiannya adalah melakukan penelaahan
terhadap data-data yang bersumber dari buku-buku, jurnal, majalah, dan sumber
lain yang terkait dengan pembahasan ini. Sedangkan sistematika pembahasan
meliputi setting biografi pemikir, pokok-pokok pemikiran dan studi kritis
terhadap gagasan-gasasannya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
konsep pemikiran Syaikh Muhammad Naquib al-Attas tentang pendidikan?
2.
Bagaimana
aplikasi dari tujuan pendidikan Islam yang menjadi pusat pemikiran dari Syaikh
Muhammad Naquib al-Attas?
3.
Apa saja
karya-karya yang pernah dicapai oleh Syaikh Muhammad Naquib al-Attas?
C.
Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
konsep pemikiran pendidikan menurut Syaikh Muhammad Naquib al-Attas, dapat
mengaplikasikan tentang tujuan dari pendidikan Islam yang dipaparkan oleh
Syaikh Muhammad Naquib al-Attas, dan dapat mengetahui semua karya-karya yang
pernah dicapai oleh Syaikh Muhammad Naquib al-Attas semasa hidupnya di negeri
ini hingga negeri tetangga atau dunia Internasional
PEMBAHASAN
A.
Biografi Syaikh Muhammad Naquib al-Attas
Syaikh Muhammad Naquib al-Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat,
pada 5 September 1931. Syaikh Muhammad Naquib al-Attas mendapat gelar Sayyed
yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan
Nabi Muhammad SAW.[1]
Ia adik kandung dari Prof. Dr. Syed Hussein al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar
sosiologi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ayahnya bernama Syed
Ali bin Abdullah al-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan al-Idrus,
keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari
Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yang terkenal
dari kalangan Sayid.[2]
Melihat garis keturunan tersebut dapat dikatakan bahwa al-Attas merupakan
“bibit unggul” dalam percaturan perkembangan Islam di Indonesia dan Malaysia.
Ketika berusia 5 tahun, al-Attas diajak orang tuanya migrasi ke
Malaysia untuk dimasukkan dalam pendidikan dasar Ngee Heng Primary School
sampa usia 10 tahun. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni
ketika Jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas dan keluarga pindah lagi ke
Indonesia. Di sini, al-Attas melanjutkan pendidikan di sekolah ‘Urwah
al-Wusqa’, Sukabumi selama 5 tahun. Terusik oleh panggilan nuraninya untuk
mengamalkan lmu yang diperolehnya di Sukabumi, sekembalinya ke Malaysia,
al-Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara
kerajaan di Inggris.[3]
Setelah Malaysia merdeka (1957), al-Attas mengundurkan diri dari
dinas militer dan mengembangkan potensi dasarnya yakni di bidang
intelektualnya. Untuk itu, al-Attas sempat kuliah di Universitas Malaya selama
dua tahun. Berkat kecerdasannya, ia
dikirim oleh pemerintah Malaysia untuk melanjutkan studi di Institute of
Islamic Studies, McGill University, Kanada.[4]
B. Konsep
Pendidikan menurut Syaikh Muhammad Naquib al-Attas
Pemikiran Naquib al-Atas dalam bidang
pendidikan didasarkan pada keprihatinannya terhadap penyempitan makna istilah –
istilah ilmiah islam yang disebabkan oleh upaya westernisasi, mitologisasi,
pemasukan hal-hal yang magis (gaib) dan sekulerisasi. Untuk mengembalikan pada
proporsi yang sebenarnya, maka al-Attas memperkenalkan dan mengemukakan proses
dewesternisasi dan islamisasi sebagai langkah awal pembangunan paradigma
pemikiran islam kontemporer. Dewesternisasi adalah pembersihan islam dari
westernisasi dimana westernisasi dipahami sebagai pembaratan atau meniru gaya
barat. Dalam pandangan al-attas dewesternisasi adalah proses mengenal,
memisahkan dan mengasingkan unsur-unsur sekuler (substansi, roh, watak dan
kepribadian kebudayaan serta peradaban Barat) dari tubuh pengetahuan yang akan
mengubah bentuk-bentuk, nilai-nilai dan tafsiran konseptual isipengetahuan
seperti yang disajikan sekarang.
Pemikiran pendidikan Naquib al-Attas juga
didasarkan pada pemikirannya tentang metafisika dan epistemologi. Pemikiran
metafisika al-attas berangkat dari paham teologisnya. Dalam tradisi tasawuf
Islam, dikenal beberapa istilah mubtabtadi (pemula), mutawasith (pertengahan),
dan muntahi (terakhir). Pada tingkat mubtadi seorang sufi hanya
membahas masalah moral dan adab. Tingkat mutawasith seorang sufi
mendalami dan mengamalkan wirid. Pada tahap selanjutnya yaitu muntahi si
calon sufisudah memasuki dunia filsafat dan metafisik. Pada tingkat ini sudah
diwajibkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang tiga jenis pengetahuan
(‘ilm), yaitu ilmu kebijaksanaan ketuhanan (al-hikmah al-ilahiyah),
ilmu-ilmu naqliyah atau syari’ah (al-ulum al-syari’ah),
dan terakhir adalah ilmu-ilmu rasional (al-ulum al-aqliyah). Dengan
ketiga jenis pengetahuan
ini, maka tasawuf yang dikemukakan al-Attas di atas, lebih dikenal dengan
sebutan tasawuf falsafi. Sedangkan tasawuf yang membatasi dirinya pada
tingkatan pertama dan kedua dikenal dengan istilah tasawuf akhlaqi.[5]
Ada beberapa istilah yang
dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang
pengistilahan itu diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah.
Misalnya dijumpai kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam pembahasan
berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib al-Attas.
Pemaparan konsep
pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah
(lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya. Pemilihan istilah
ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas dengan menganalisis
dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan ta’lim telah mengakar dan
mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih
sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya, kata ta’dib sebagaimana
yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata addaba yang berarti memberi
adab, atau mendidik.
Dalam pandangan al-Attas,
dengan menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah
proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan
substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang
menanamkan adab.[6]
Al-Attas melihat bahwa
adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan
dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan
Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian
membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).[7]
Sesuai dengan ungkapan
hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab
pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di
akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah
wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan
pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas antara
ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan
memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang
teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana
manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama[8]
al-Attas menjelaskan bahwa
perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada
aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga
bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa
dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur
pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik.
Sebuah pemaknaan dari
konsep ta’dib ini, al-Attas beranggapan bahwa diri manusia adalah
sabyek yang dapat didik, disadarkan sesuai dengan posisinya sebagai makhluk
kosmis. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh dapat
diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan menurut kehendak bebas pemilik
ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi sarat nilai (value laden), yakni nilai-nilai Islam
yang mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan kemaslahatan
umat manusia[9]
C.
Karya-karya
al-Attas
Karya-karyanya
yang berkaitan dengan kebudayaan Islam Melayu antara lain:[10]
1. Rangkaian Ruba'iyat, Dewan Bahasa & Pustaka,
Kuala Lumpur, 1959.
2. Some Aspect of Sufism as understood and Practiced among the Malays, MSRI, Singapore, 1963.
3. Raniri and the wujudiyah of 17th
century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society, Malaysian Branch, No. Ill, Singapore,
1966.
4. The Origin of the Malay Sha'ir, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1968.
5. Preleminary Statement on a general Theory of the
Islamization of the Malay-Indonesia
Archipelago, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1969.
6. The Mysticism ofHamzah Fansuri, Universitas Malaya Press, Kuala Lumpur, 1969.
7. Concluding Postcript to the Malay
Sha'ir, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1971.
8. The Correct date of the
Trengganu Inscription, The Muzeums Department, 1971.
9. Islam dalam Sejarah dan
Kebudayaan Melayu, Penerbit UKM, 1972.
10. Risalah Untuk Kaum Muslimin, tanpa tahun.
11. Comments on the Refutation, taripa tahun.
12. A Commentary on the Hujjat
Al-Siddiq of Nur Al-Din Al-Raniri, 1986.
13. The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th century Malay Trans-
" lation of the Aqaid of Al-Nasafi, 1988 (Muslih, 1993: 17).
" lation of the Aqaid of Al-Nasafi, 1988 (Muslih, 1993: 17).
Karya-karya Al-Attas yang
lain banyak mengungkapkan gagasan-gagasannya
dalam upaya Islamisasi ilmu maupun konsep-konsep yang me-latarbelakanginya,
antara lain:[11]
1. Islam: The Concept of Religion
and the Foundation of Ethic and Morality, ABIM, Kuala Lumpur, 1976.
2. Preleminary Thought on the Nature of Knowledge and'the
Definition and Aims of Education, PMIM, Kuala Lumpur, 1977.
3. Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978.
4. Islam, Secularism, and Philosophy of the Nature, 1985.
5. Dilema Kaum Muslimin, Bina Ilmu, Surabaya, tanpa tahun.
6. The Concept of Education in
Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education, ABIM, Kuala Lumpur, 1980.
7. Aims and Objectives of Islamic Education, Hodder Stoughton, London and University of King Abdul
Aziz, Jeddah, 1979.
8. Islam and the Philosophy of Science (1989), di-Indonesiakan dengan judul: Islam dan Filsafat
Sains, Penerjemah: Saiful Muzani, Mizan, Bandung, 1995.
PENUTUP
Kesimpulan
Bagaimanapun hebatnya pemikiran seseorang
pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna,
tak terkecuali paradigma pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Al-Attas. Namun apa yang digagasnya merupakan suatu
komoditi berharga bagi pengembangan
dunia pendidikan Islam, baik dalam dataran
teoritis maupun praktis. Demikian pula gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan
adalah ide yang penting untuk digayungsambuti secara positif. Hal tersebut
bermuara pada tujuan agar menghindarkan umat manusia dari kesesatan disebabkan oleh ilmu
yang sudah ada terpola secara filsafat Barat yang sekulen Selanjutnya bagaimana
konsepsi tersebut menemukan formatnya secara konkrit dan operasional, maka
kepada para pakar dan cendekiawan muslim
yang berkompeten di bidangnya, problematika besar ini menunggu jawab dan solusi.
Secara akademis
pemikiran kritis dan inovatif seperti yang dilakukan Al-Attas, dalam
konteks demi kemajuan dunia pendidikan Islam merupakan suatu keniscayaan,
condition sine quanon untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus. Hal
tersebut merupakan konsekwensi dan refleksi rasa tang-gung jawab manusia
yang memiliki fungsi dan tugas utama sebagai abdullah dan khalifatullah fi al-ardl.
Wallahu a'lam bi shawab.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin.
Samsul Nizar. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan
Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Baqir Haidar. 1990. Konsep Pendidikan Dalam
Islam, Suatu Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Mizan.
Kholiq
Abdul, dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nata Abudin. 2012. Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nawawi Imam. 2006. Ringkasan Riyadush Sholihin. Bandung: Irsyad
Baitus Salam.
Nizar Samsul, dkk. 2005. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan
Historis, Teoritis dan Praktis Edisi Revisi. Jakarta: Ciputat Press.
SM Ismail. 1999.
Paradigma
Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[1] Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta:
Ciputat Press: 2002), hlm 117
[2] Abdul Kholiq,
Abdul Mukti, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 271
[3] Samsul Nizar,
ddf, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis
Edisi Revisi, (Jakarta: Ciputat Press: 2005), hlm 117
[4] Abudin Nata, Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.
332
[5]
Abudin Nata, Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat, hlm.
335-337.
[7] Imam Nawawi, Ringkasan
Riyadush Sholihin, (Bandung, Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 216.
[8] Haidar
Baqir, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Pembinaan
Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan, 1990),
hlm. 222.
[9] Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan
Islam, kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, hlm
280-281.
[10]
Abdul Kholiq,
dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer,
hlm. 273.
[11] Abdul Kholiq,
dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer,
hlm. 274.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar