Rabu, 06 Mei 2015



PROF. SYAIKH MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS
 
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah : Perkembangan Pemikiran Modern dalam Dunia Islam

Dosen Pengampu: Dr. H. Abdul Basit. M.Ag

Oleh :
Rizki Nur Sabandi (1323301012)
Rizki Hidayat (1323301030)



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kajian tentang konsep pendidikan Islam memang menarik didiskusikan dan dibahas secara mendalam, walaupun hal itu beberapa kali telah diangkat menjadi tema kajian oleh beberapa tokoh pemikir. Di hadapan dunia akademis, tema-tema seperti itu terkesan sudah “sangat sering”, namun dinamika pemikiran intelektual selalu tidak pernah puas dan final akan kajian yang serupa. Memusatkan seputar kajian konsep pendidikan Islam dan islamisasi pengetahuan dilatar belakangi oleh rasa keingintahuan akan sebuah pemahaman yang relatif komprehensif, mendalam, serta berusaha mengelaborasi pemikiran-pemiran yang ada ke dalam konteks pergumulan pemikiran sekarang yang jauh lebih dialektik.
Penulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis tentang pemikiran dari kedua pemikir di atas. Adapun metodologi dan sistematika penyajiannya adalah melakukan penelaahan terhadap data-data yang bersumber dari buku-buku, jurnal, majalah, dan sumber lain yang terkait dengan pembahasan ini. Sedangkan sistematika pembahasan meliputi setting biografi pemikir, pokok-pokok pemikiran dan studi kritis terhadap gagasan-gasasannya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep pemikiran Syaikh Muhammad Naquib al-Attas tentang pendidikan?
2.      Bagaimana aplikasi dari tujuan pendidikan Islam yang menjadi pusat pemikiran dari Syaikh Muhammad Naquib al-Attas?
3.      Apa saja karya-karya yang pernah dicapai oleh Syaikh Muhammad Naquib al-Attas?
C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang konsep pemikiran pendidikan menurut Syaikh Muhammad Naquib al-Attas, dapat mengaplikasikan tentang tujuan dari pendidikan Islam yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad Naquib al-Attas, dan dapat mengetahui semua karya-karya yang pernah dicapai oleh Syaikh Muhammad Naquib al-Attas semasa hidupnya di negeri ini hingga negeri tetangga atau dunia Internasional
PEMBAHASAN
A.    Biografi Syaikh Muhammad Naquib al-Attas
Syaikh Muhammad Naquib al-Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931. Syaikh Muhammad Naquib al-Attas mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.[1] Ia adik kandung dari Prof. Dr. Syed Hussein al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah al-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yang terkenal dari kalangan Sayid.[2] Melihat garis keturunan tersebut dapat dikatakan bahwa al-Attas merupakan “bibit unggul” dalam percaturan perkembangan Islam di Indonesia dan Malaysia.
Ketika berusia 5 tahun, al-Attas diajak orang tuanya migrasi ke Malaysia untuk dimasukkan dalam pendidikan dasar Ngee Heng Primary School sampa usia 10 tahun. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni ketika Jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas dan keluarga pindah lagi ke Indonesia. Di sini, al-Attas melanjutkan pendidikan di sekolah ‘Urwah al-Wusqa’, Sukabumi selama 5 tahun. Terusik oleh panggilan nuraninya untuk mengamalkan lmu yang diperolehnya di Sukabumi, sekembalinya ke Malaysia, al-Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan di Inggris.[3]
Setelah Malaysia merdeka (1957), al-Attas mengundurkan diri dari dinas militer dan mengembangkan potensi dasarnya yakni di bidang intelektualnya. Untuk itu, al-Attas sempat kuliah di Universitas Malaya selama dua tahun.  Berkat kecerdasannya, ia dikirim oleh pemerintah Malaysia untuk melanjutkan studi di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada.[4]

B.       Konsep Pendidikan menurut Syaikh Muhammad Naquib al-Attas
Pemikiran Naquib al-Atas dalam bidang pendidikan didasarkan pada keprihatinannya terhadap penyempitan makna istilah – istilah ilmiah islam yang disebabkan oleh upaya westernisasi, mitologisasi, pemasukan hal-hal yang magis (gaib) dan sekulerisasi. Untuk mengembalikan pada proporsi yang sebenarnya, maka al-Attas memperkenalkan dan mengemukakan proses dewesternisasi dan islamisasi sebagai langkah awal pembangunan paradigma pemikiran islam kontemporer. Dewesternisasi adalah pembersihan islam dari westernisasi dimana westernisasi dipahami sebagai pembaratan atau meniru gaya barat. Dalam pandangan al-attas dewesternisasi adalah proses mengenal, memisahkan dan mengasingkan unsur-unsur sekuler (substansi, roh, watak dan kepribadian kebudayaan serta peradaban Barat) dari tubuh pengetahuan yang akan mengubah bentuk-bentuk, nilai-nilai dan tafsiran konseptual isipengetahuan seperti yang disajikan sekarang.
Pemikiran pendidikan Naquib al-Attas juga didasarkan pada pemikirannya tentang metafisika dan epistemologi. Pemikiran metafisika al-attas berangkat dari paham teologisnya. Dalam tradisi tasawuf Islam, dikenal beberapa istilah mubtabtadi (pemula), mutawasith (pertengahan), dan muntahi (terakhir). Pada tingkat mubtadi seorang sufi hanya membahas masalah moral dan adab. Tingkat mutawasith seorang sufi mendalami dan mengamalkan wirid. Pada tahap selanjutnya yaitu muntahi si calon sufisudah memasuki dunia filsafat dan metafisik. Pada tingkat ini sudah diwajibkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang tiga jenis pengetahuan (‘ilm), yaitu ilmu kebijaksanaan ketuhanan (al-hikmah al-ilahiyah), ilmu-ilmu naqliyah atau syari’ah (al-ulum al-syari’ah), dan terakhir adalah ilmu-ilmu rasional (al-ulum al-aqliyah). Dengan ketiga jenis pengetahuan ini, maka tasawuf yang dikemukakan al-Attas di atas, lebih dikenal dengan sebutan tasawuf falsafi. Sedangkan tasawuf yang membatasi dirinya pada tingkatan pertama dan kedua dikenal dengan istilah tasawuf akhlaqi.[5]
Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib al-Attas.
Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya. Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya, kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata addaba yang berarti memberi adab, atau mendidik.
Dalam pandangan al-Attas, dengan menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan adab.[6]
Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).[7]
Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama[8]
al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik.
Sebuah pemaknaan dari konsep ta’dib ini, al-Attas beranggapan bahwa diri manusia adalah sabyek yang dapat didik, disadarkan sesuai dengan posisinya sebagai makhluk kosmis. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan menurut kehendak bebas pemilik ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi sarat nilai (value laden), yakni nilai-nilai Islam yang mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia[9]
C.    Karya-karya al-Attas
Karya-karyanya yang berkaitan dengan kebudayaan Islam Melayu antara lain:[10]
1.       Rangkaian Ruba'iyat, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1959.
2.       Some Aspect of Sufism as understood and Practiced among the Malays, MSRI, Singapore, 1963.
3.       Raniri and the wujudiyah of 17th century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society, Malaysian Branch, No. Ill, Singapore, 1966.
4.       The Origin of the Malay Sha'ir, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1968.
5.       Preleminary Statement on a general Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1969.
6.       The Mysticism ofHamzah Fansuri, Universitas Malaya Press, Kuala Lumpur, 1969.
7.       Concluding Postcript to the Malay Sha'ir, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur, 1971.
8.       The Correct date of the Trengganu Inscription, The Muzeums Depart­ment, 1971.
9.       Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Penerbit UKM, 1972.
10.   Risalah Untuk Kaum Muslimin, tanpa tahun.
11.   Comments on the Refutation, taripa tahun.
12.   A Commentary on the Hujjat Al-Siddiq of Nur Al-Din Al-Raniri, 1986.
13.   The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th century Malay Trans-
" lation of the Aqaid of Al-Nasafi, 1988 (Muslih, 1993: 17).
Karya-karya Al-Attas yang lain banyak mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam upaya Islamisasi ilmu maupun konsep-konsep yang me-latarbelakanginya, antara lain:[11]
1.       Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethic and Mo­rality, ABIM, Kuala Lumpur, 1976.
2.       Preleminary Thought on the Nature of Knowledge and'the Defini­tion and Aims of Education, PMIM, Kuala Lumpur, 1977.
3.       Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978.
4.       Islam, Secularism, and Philosophy of the Nature, 1985.
5.       Dilema Kaum Muslimin, Bina Ilmu, Surabaya, tanpa tahun.
6.       The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Phi­losophy of Education, ABIM, Kuala Lumpur, 1980.
7.       Aims and Objectives of Islamic Education, Hodder Stoughton, Lon­don and University of King Abdul Aziz, Jeddah, 1979.
8.       Islam and the Philosophy of Science (1989), di-Indonesiakan dengan judul: Islam dan Filsafat Sains, Penerjemah: Saiful Muzani, Mizan, Bandung, 1995.








PENUTUP
Kesimpulan
Bagaimanapun hebatnya pemikiran seseorang pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna, tak terkecuali paradigma pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Al-Attas. Namun apa yang digagasnya merupakan suatu komoditi berharga bagi pengembangan dunia pendidikan Islam, baik dalam dataran teoritis maupun praktis. Demikian pula gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah ide yang penting untuk digayungsambuti secara positif. Hal tersebut bermuara pada tujuan agar menghindarkan umat manusia dari kesesatan disebabkan oleh ilmu yang sudah ada terpola secara filsafat Barat yang sekulen Selanjutnya bagaimana konsepsi tersebut me­nemukan formatnya secara konkrit dan operasional, maka kepada para pakar dan cendekiawan muslim yang berkompeten di bidangnya, problematika besar ini menunggu jawab dan solusi.
Secara akademis pemikiran kritis dan inovatif seperti yang dilakukan Al-Attas, dalam konteks demi kemajuan dunia pendidikan Islam merupakan suatu keniscayaan, condition sine quanon untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus. Hal tersebut merupakan konsekwensi dan refleksi rasa tang-gung jawab manusia yang memiliki fungsi dan tugas utama sebagai abdullah dan khalifatullah fi al-ardl. Wallahu a'lam bi shawab.










DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin. Samsul Nizar. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Baqir Haidar. 1990. Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Mizan.
Kholiq Abdul, dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nata Abudin.  2012. Pemikiran Pendidikan Islam & Barat. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nawawi Imam. 2006. Ringkasan Riyadush Sholihin. Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Nizar Samsul, dkk. 2005. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis Edisi Revisi. Jakarta: Ciputat Press.
SM Ismail. 1999. Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press: 2002), hlm 117
[2] Abdul Kholiq, Abdul Mukti, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 271
[3] Samsul Nizar, ddf, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis Edisi Revisi, (Jakarta: Ciputat Press: 2005), hlm 117
[4] Abudin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 332
[5] Abudin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, hlm. 335-337.
[6] Ismail SM, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 275.
[7] Imam Nawawi, Ringkasan Riyadush Sholihin, (Bandung, Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 216.
[8] Haidar Baqir, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan, 1990), hlm. 222.
[9] Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam, kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, hlm 280-281.
[10] Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, hlm. 273.
[11] Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, hlm. 274.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar