Senin, 04 Mei 2015



HADITS TENTANG BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Materi Qur’an Hadits 1

Dosen Pengampu: Ade Ruswatie, M.Pd

Oleh :
Rizki Hidayat                         (1323301030)
Yogie Wahyu Pratama        (1323301261)
Lilik Tanwirotul F.               (1323301226)


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Rasulullah SAW adalah perantara hidayah dari Allah SWT, yang dimana hidayah tersebut disampaikan kepada umatnya, sehingga umatnya dapat melaksanakan tugasnya dimuka bumi ini sebagai khalifah, serta menegakkan kalimat tauhid. Sama halnya dengan kedua orang tua, mereka merupakan perantara yang Allah SWT ciptakan untuk melahirkan kita di dunia ini, dengan demikian sangatlah tinggi derajat orang tua di sisi anak-anaknya. Maka dari itu merupakan suatu perbuatan dzalim apabila kita tidak menghargai, menghormati serta tidak berbuat baik kepadanya.
Birrul walidain ( بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ) yaitu berbakti, mematuhi, dan merawat kedua orang tua, menjamin hak-hak mereka, memenuhi kebutuhan mereka adalah pusat kekuatan energi kehidupan yang menghidupkan. Al-Qur’an dan as-Sunnah menegaskan ini sebagai kewajiban. Hal ini menjelaskan betapa besarnya perhatian Islam terhadap kedua orang tua termasuk juga sanak kerabat, yang telah banyak berperan dalam memelihara hidup kita.
Islam telah mengajarkan kepada kita agar berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anak, yaitu memelihara dan mendidik kita sejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikit pun dari anak, meskipun anak sudah mandiri dan bercukupan tetapi orang tua tetap memperlihatkan kasih sayangnya, oleh karena itu seorang anak memiliki macam-macam kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah SWT, dan kita juga dilarang durhaka kepada orang tua. Dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan tentang berbakti kepada orang tua (birrul walidain).





B.     Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian berbakti kepada orang tua (birr waalidain) dan bagaimana aplikasinya?
b.      Mengapa kedudukan berbakti kepada orang tua (birr waalidain) sangat mulia dalam ajaran Islam?
c.       Apa saja bentuk-bentuk dalam berbakti kepada orang tua (birr waalidain)?
d.      Bagaimana bunyi do’a seorang anak berbakti kepada orang tuanya?
e.       Apa saja hadits yang menjelaskan bahwa seorang anak wajib berbakti kepada orang tua?
C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui dan bisa mengaplikasikan dari pengertian birr waalidain dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui kedudukan berbakti kepada kedua orang tua itu sangat mulia, mengidentifikasi apa saja bentuk-bentuk seorang anak berbakti kepada orang tuanya, mengetahui doa seorang anak untuk kedua orang tuanya, mengetahui dan mengaplikasikan macam-macam hadits yang menerangkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya wajib dalam kehidupan sehari-hari.











PEMBAHASAN
A.    Pengertian Berbakti kepada Orang Tua (Birr al-Waalidain)
Birr berasal dari kata bahasa Arab yang berarti taat dengan mempergaulinya secara baik atas dasar cinta dan kasih sayang. Menurut Imam Nawawi birr al-waalidain itu adalah berbuat baik kepada orang tua, bersikap baik kepadanya serta melakukan hal-hal yang dapat membuatnya bahagia serta berbuat baik kepada teman dan sahabat-sahabat keduanya.
Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
Al-Imam adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birr al-waalidain hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban yaitu: Pertama, Menaati segala perintah orang tua kecuali dalam bentuk maksiat. Kedua, Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua. Ketiga, membantu atau menolong orang tua apabila mereka membutuhkan.[1]
Birr al-Waalidain merupakan perintah Allah yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk dilaksanakan oleh setiap anak manusia. Firman Allah SWT:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّتَعْبُدُوْا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْكِلاَهُمَا
فَلاً تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا
وَاحْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَهِيْرًا
Tuhanmu telah menetapkan supaya janganlah kamu sembah selain Dia, dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu bapak). Jika seorang di antara keduanya telah tua atau kedua-duanya telah tua maka janganlah engkau katakan “cis” kepada keduanya, dan janganlah pula engkau hardik keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia (lemah lembut).
Rendahkanlah sayap kehinaan (berhina dirilah) kepada keduanya karena kasih sayang, dan katakanlah! Ya Tuhanku kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihani ketika aku kecil.[2]
Ayat diatas mengandung dua maksud, yang pertama adalah kita dilarang untuk menyekutukan Allah pada suatu apapun karena menyekutukan Allah (syirik) termasuk dosa besar yang tidak akan diampuni dosanya kecuali dengan taubatan nasukha. Yang kedua kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, kewajiban anak berbakti kepada orang tua bukan hanya pada waktu mereka masih hidup, bahkan setelah meninggal dunia, anak harus tetap berbakti kepadanya. Jangan sekali-kali kita mengatakan “ah” apalagi membentak, memukul dan yang lebih dari itu. Karena ucapan “ah” saja sudah membawa dosa apalagi jika berbuat lebih.[3]
B.     Kedudukan Birrul Waalidain
Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.
Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung tapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mempu berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas.
Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar dan logis saja, kalau si anak dituntut untuk berbuat kebaikan kepada orang tuanya dan dilarang untuk mendurhakainya.[4]




C.    Bentuk-bentuk Birrul Waalidain
Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antaranya:
a.       Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tua, taat dan patuh orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat maksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara yang halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.
b.      Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun bertutur kata, memuliakan keduanya, terlebih di usia senja.[5]
c.       Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya. Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran Islam.
d.      Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.
e.        Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f.       Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g.       Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h.      Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain:
·         Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya
·         Melunasi semua hutang-hutangnya
·         Melaksanakan wasiatnya
·         Meneruskan silaturrahmi yang dibinanya sewaktu hidup
·         Mendoakannya
Cara mematuhi orang tua diantaranya:[6]
a)      Taat kepada keduanya
b)      Menyenangkan hati keduanya
c)      Bersikap baik kepada orang tua walaupun mereka musyrik dan mendzolimi kita.
d)     Minta izin sebelum melakukan sesuatu.
e)      Selalu mendokan keduanya sekalipun telah meninggal
f)       Bersilaturrahim dengan teman-teman kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya
D.    Doa Anak untuk Orang Tua
Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil contoh dari ayat suci al-Qur’an yaitu, doa Nabi Ibrahim As ketika mengajukan permohonan kepada Allah SWT agar dapatlah kiranya Allah memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Doa Nabi Ibrahim as dalam QS.Ibrahim: 41
رَبّنَا اغْفِرْلِي وَلَوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ 
Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".[7]

Permohonan Nabi Ibrahim dalam QS. Al-Israa’: 24
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".[8]
E.     Hadits tentang Biir al-Waalidain
a.       Hadits dari Abdullah ibnu Umar tentang ridla Allah terletak pada ridla orang tua
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ وَ سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)
Dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhaan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. (HR. At-Tirmidzi. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim).[9]
Sebab hadits itu turun karena menjelaskan kepada seorang anak agar patuh dan tunduk pada perintah orang tua. Sebagai seorang anak, tidak boleh membuat orang tua menjadi marah dan sakit hati.
b.      Hadis dari Abu Hurairah tentang siapakah yang berhak dipergauli dengan baik
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “Bapakmu!”(H.R.Bukhari)[10]
Sebab turunnya hadits ini karena Muslim meriwayatkan dari Abu Khurairah: Seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu bertanya: Siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik (yang paling berhak aku berbakti kepadanya)? Nabi menjawab dengan hadits tersebut di atas: Beliau menjawab ibumu!, Ia bertanya pula, kemudian siapa lagi?, beliau menjawab ibumu! Ia bertanya pula, kemudian siapa lagi? Belau menjawab ibumu! Ia bertanya kembali kemudian siapa lagi?, Beliau men­jawab Bapakmu (ayahmu).[11]
Hadits di atas adalah tuntunan bagi seorang anak akan pentingnya adab pribadi terhadap orang tua, kewajiban seorang anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Dalam hadis di atas kata-kata ummuka disebut sampai tiga kali, hal ini bukan menunjukkan ada perbedaan dalam berbakti antara ayah dan ibu. Namun dari segi asal mula kejadian manusia ibu adalah orang yang mengandung dalam keadaan susah payah, setelah itu melahirkan dan menyapih anak. Hal ini  adalah pekerjaan seorang ibu secara sendirian, setelah itu ayah dan ibu bekerjasama untuk memelihara, membesarkan dan mendidik anak tersebut.[12] Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur'an sebagai berikut:
وَوَصَيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِي عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْلِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّا لْمَصِيْرُ
Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS. Luqman: 14).[13]
c.       Hadis dari Abdullah bin Mas’ud tentang amal yang paling disukai Allah SWT
عَبْدُ الله بن مَسْعُودٍ قال سَاَ لْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله قال : الصَّلَاةُ على وَقْتِهَا قال: ثم اي قال : ثُمَّ بِرُّ الْوَالْدَيْنِ قال: ثم اي قال : الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله          (اخرجه البخاري و مسلم)
Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “shalat pada waktunya”. “saya bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “berbuat baik kepada kedua orang tua. “saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “berjihad (berjuang) di jalan Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim)[14]
Sebab turunnya hadits tersebut ketika setiap orang yang menyampaikan kebaikan kepada kedua orang tuanya semamppu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan kepada keduanya akan mendapatkan ridla Allah. Kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan syariat), dan harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang (selama tidak melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla).
d.      Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr yang diriwayatkan oleh Bukhari tentang Allah mengharamkan durhaka kepada orangtua
رَوَى الْبُجَارِي عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ وَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الْكَبَائِرُ الْإِشْرَاكُ بِااللهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوسُ
Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Dosa besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada ibu-bapak, membunuh jiwa, dan sumpah palsu.[15]
Sebab hadits itu turun karena dalam kitab Riyadhush Shalihin dijelaskan, bahwa ketika nabi menjelaskan tentang dosa syirik dan durhaka terhadap kedua orang tua. Dalam hadits tersebut diterangkan empat macam dosa besar, salah satunya durhaka kepada orang tua. Maksudnya adalah tidak berbakti kepada keduanya. Setiap anak wajib berbakti kepada orang tuanya sesuai kemampuannya. Ia wajib menaati mereka selama bukan untuk kemungkaran dan kemaksiatan kepada Allah.
Menghormati dan menghargai serta berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban yang harus dipatuhi, karena begitu besar jasa dan pengorbanan kedua orang tua, sampai Allah berwasiat kepada semua umat manusia untuk berbuat baik kepada keduanya terlebih dahulu.
Ridla Allah merupakan puncak pencarian dari seorang hamba yang mengabdi kepada-Nya. Beramal shaleh untuk mengharapkan balasan kebajikan dari Allah tidaklah salah, demikian pula mengabdi kepada-Nya untuk mendambakan surganya juga bukan tindakan keliru, akan tetapi tunduk dan patuh kepada Allah untuk mengharapkan ridla-Nya itulah sesungguhnya merupakan tingkat tertinggi dari penghambaan seseorang.[16]

PENUTUP
Birr al-walidain adalah berbuat baik kepada orang tua bersikap baik kepadanya serta melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia serta berbuat baik kepada teman dan sahabat-sahabat keduanya.
Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan demikian pula murka-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa keridhaan orang tua merupakan hal yang paling utama.
Kemuliaan seorang ibu dibanding ayah adalah tiga banding satu karena tugas yang diemban ibu sangatlah berat dari mulai mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat hingga membesarkan anak-anaknya.
Selain berbuat baik kepada kedua orang tua, juga terdapat amalan yang disukai oleh Allah lainnya diantaranya shalat pada waktunya dan jihad di jalan Allah. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati kedua orang tua diantaranya taat kepada mereka, menyenangkan hati keduanya dll.













DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqolani Ibnu Hajar. 2009. Terjemahan lengkap Bulughul Maram. Jakarta: Akbar.
Al-Damsyiqi Ibn Hamzah al-Hanafi. 1997. Asbabul Wurud Hadits. Jakarta: Kalam Mulia.
Departemen Agama RI. 1994. al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Adi Grafika.
Departemen Agama RI. 2005. al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Departemen Agama RI. 2006. Al Qur’an al Karim dan terjemah Bahasa Indonesia, Kudus: Menara Kudus.
Hamzah Muhammad Shalih Ajaj. 1993. Menyingkap Tirai 55 Wasiat Rasul. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Hasan Ayyub. 1994. As Sulukul Ijtima’i fil Islam Etika Islam (menuju kehidupan yang hakiki). Bandung : Trigenda Karya.
Hasan Muhammad Shiddiq. 2009. Ensiklopedia Hadis Sahih Kumpulan Hadis tentang Wanita. Bandung: Hikmah.
Ilyas Yunahar. 2007. Kuliah Akhklak. Yogyakarta: LPPI.
Juwariyah. 2010. Hadits Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
Nawawi Imam. 1999. Terjemah Riyadhus Shalihin juz I. Jakarta: Pustaka Amani.
Suryani. 2012. Hadits Tarbawi Analisis Paedagogis Hadits-hadits Nabi. (Yogyakarta: Teras.
Sya’roni Mahmud. 2006. Cermin Kehidupan Rasul. Semarang: Aneka Ilmu.


[1] Juwariyah, HaditsTarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 15
[2] Departemen Agama RI, Al Qur’an al Karim dan terjemah Bahasa Indonesia, (Kudus: Menara Kudus), hlm. 427-428
[3] Hamzah Muhammad Shalih Ajaj, Menyingkap Tirai 55 Wasiat Rasul, (Jakarta : Puataka Panjimas, 1993), hlm. 136
[4] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhklak, (Yogyakarta: LPPI, 2007), hlm. 147-152.
[5] Mahmud Sya’roni, Cermin Kehidupan Rasul, (Semarang: Aneka Ilmu, 2006), hlm. 378.
[6] Hasan Ayyub, As Sulukul Ijtima’i fil Islam Etika Islam (menuju kehidupan yang hakiki), (Bandung : Trigenda karya, 1994), hlm. 335-342
[7] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Adi Grafika, 1994), hlm. 386
[8] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), hlm. 227
[9] Ibnu Hajar al-Asqolani, Terjemahan lengkap Bulughul Maram, (Jakarta: Akbar, 2009), hlm. 671.
[10] Imam Nawawi, Ringkasan Riyadhuhs Shalihin juz I, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm. 339.
[11] Ibnu Hamzah al-Hanafi al-Damsyiqi, Asbabul Wurud Hadits, (Jakarta: Kalam Mulia, 1997), hlm. 407.
[12] Suryani, Hadits Tarbawi Analisis Paedagogis Hadits-hadits Nabi, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 107-108
[13] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), hlm. 329
[14] Muhammad Shiddiq Hasan, Ensiklopedia Hadis Sahih Kumpulan Hadistentang Wanita, (Bandung: Hikmah, 2009), hlm. 503
[15] Imam Nawawi, Ringkasan Riyadhush ..., hlm. 341
[16] Juwariyah, Hadits ..., hlm. 17-19
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar