ORIENTASI DAN RUANG LINGKUP KERJA
BIMBINGAN KONSELING
Disusun untukMemenuhi
Tugas Tersrtuktur
Matakuliah BimbinganKonseling
Oleh :
Rizki Hidayat (1323301030)
Yeni Andini M (1323301142)
Dwi Yoga A (1323301152)
NurulKholipah (1323301154)
InayatulFarihah (1323301163)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Layanan bimbingan dan konseling
merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layanan
profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan
secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang
kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
Bimbingan dan konseling juga
haruslah dikenalkan kepada setiap peserta didik sejak dini dan karena layanan
bimbingan dan konseling ini haruslah diperkenalkan kepada saat yang tepat dan
jangan sampai menjadi salah sasaran.
Dalam hal ini pula cakupan bimbingan
dan konseling haruslah sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan bimbingan
dan konseling ini. Karena dalam kehidupan di sekolah sering terjadi pemahaman
yang salah tentang bimbingan dan konseling dimata para pendidik maupun peserta
didik itu sendiri yang notabennya menjadi objek kajian bimbingan dan konseling.
Oleh karena itu, dalam upaya
memberikan pemahaman tentang orientasi dan ruang lingkup yang harus di capai
bimbingan dan konseling, melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang orientasi
atau pengenalan dan ruang lingkup bimbingan dan konseling.
B.
Rumusan
Masalah
a.
Apa pengertian bimbingan dan konseling ?
b.
Bagaimana orientasi bimbingan dan konseling ?
c. Sejauh mana
ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling ?
C.
Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi
seputar orientasi dan ruang lingkup kerja Bimbingan Konseling agar diketahui
pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya sebagai bekal bimbingan bagi
peserta didik selaku objek.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Secara etimologis, bimbingan dan
konseling terdiri atas dua kata yaitu "bimbingan" (terjemahan dari
kata "guidance") dan "konseling" (diadopsi dari kata
"counseling").
Dalam praktik, bimbingan dan
konseling merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Keduanya
merupakan bagian yang integral.[1]Bimbingan
konseling bertujuan memberikan hasil-hasil nyata untuk pemenuhan kebutuhan
pribadi di sekolah.[2]
Bimbingan
dan Konselingyaitu suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli
agar konseling mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan juga mampu
mengembangkan potensi yang dimilikinya[3]
Untuk dapat mencapai tujuan ini,
maka setiap sekolah haruslah menyelenggarakan berbagai kegiatan. Kegiatan
tersebut meliputi kegiatan pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, untuk
mengembangkan aspek akademis dan keterampilannya.[4]
B.
Orientasi
Bimbingan dan Konseling
Orientasi yang dimaksudkan disini ialah "pusat perhatian" atau
"titik berat pandangan". Misalnya orang yang berorientasi agama akan
melihat pergaulan itu sebagai lapangan tempat dilangsungkannya ibadah menurut
ajaran agama.
Sedangkan orientasi
bimbingan dan konseling merupakan
hal apa saja yang menjadi pusat perhatian atau titik berat pandangan konselor
terhadap klien.
Orientasi tersebut adalah:
a.
Orientasi
Perseorangan
Bimbingan dan
konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandangan pada
klien/individu secara intensif. Berkenaan
dengan isu "kelompok" atau
"individu", konselor memilih individu sebagai titik berat
pandangannya.
Dalam hal
ini individu diutamakan dan kelompok dianggap sebagai
lapangan yang dapat memberikan
pengaruh tertentu terhadap
individu. Dengan kata lain,
kelompok dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan
kebahagiaan individu, dan bukan sebaliknya.
Pemusatan perhatian terhadap
individu itu sama sekali tidak berarti mengabaikan kepentingan kelompok. Dalam
hal ini kepentingan kelompok diletakkan dalam kaitannya dengan
hubungan timbal balik yang wajar antarindividu dan
kelompoknya.
Kepentingan kelompok tidak akan
terganggu oleh pemusatan pada kepentingan
dan kebahagiaan individu
yang menjadi anggota kelompok
itu.Kepentingan kelompok justru dikembangkan dan ditingkatkan melalui
terpenuhinya kepentingan dan tercapainya kebahagiaan individu.
Apabila secara individual para
anggota kelompok itu dapat terpenuhi kepentingannya dan merasa bahagia dapat
diharapkan kepentingan kelompok pun akan terpenuhi pula.
Sejumlah kaidah yang berkaitan
dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling adalah sebagai
berikut:
a)
Semua
kegiatan yang diselenggarakan dalam rangkapelayanan bimbingan dan konseling
diarahkan bagipeningkatan perwujudan diri sendiri setiap individuyang menjadi
sasaran layanan.
b)
Pelayanan
bimbingan dan konseling meliputi kegiatan yang berkenaan dengan individu untuk
memahamikebutuhan-kebutuhannya, motivasi-motivasinya, dankemampuan-kemampuan
potensialnya, yang semuanyaunik, serta untuk membantu individu agar
dapatmenghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya kearah pengembangannya yang
optimal, dan pemanfaatanyang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungannya
c)
Setiap
klien harus diterima sebagai individu dan harusditangani secara individual.
d)
Adalah
menjadi tanggung jawab konselor untukmemahami minat, kemampuan, dan perasaan
klienserta untuk menyesuaikan program-program pelayanandengan kebutuhan klien
setepat mungkin. Dalam halitu, penyelenggaraan program yang sistematis
untukmempelajari individu merupakan dasar yang takterelakkan bagi berfungsinya
program bimbingan
b.
Orientasi
Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam
bimbingan dan konseling lebih menekankan pentingnya peranan perkembangan yang terjadi
dan yang hendaknya dijadikan pada diri individu. Bimbingan dan konseling
memusatkan perhatiannya pada keseluruhan proses perkembangan itu.
Secara khusus, Thompson &
Rudolph (1983) melihat perkembangan individu dari sudut perkembangan
kognisi.Dalam perkembangannya, anak-anak berkemungkinan mengalami hambatan
perkembangan kognisi dalam empat bentuk:
a)
Hambatan
egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihatkemungkinan lain di luar apa yang
dipahaminya.
b)
Hambatan
konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untukmemusatkan perhatian pada lebih dari
satu aspektentang sesuatu hal.
c)
Hambatan
reversibilitas, yaitu ketidakmampuanmenelusuri alur yang terbalik dari alur
yang dipahamisemula.
d)
Hambatan
transformasi, ketidakmampuan meletakkansesuatu pada susunan urutan yang
ditetapkan.
Anak tidak dapat disamakan dengan
orang dewasa. Rousseau (dalam Baruth dan Robinson III, 1987) mengatakan bahwa
orang dewasa harus dipandang orang dewasa, dan anak sebagai anak, dan jalan
menuju ke kesejahteraan jiwa adalah memberi mereka tempatnya masing-masing.
Konselor untuk anak yang baik
haruslah memahami perkembangan anak yang normal sehingga dapat digunakan untuk
mengevaluasi anak-anak yang bermasalah.[5]
c. Orientasi Permasalahan
Orientasi masalah secara langsung
berhubungan dengan fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, fungsi pemahaman, dan
pemeliharaan dalam bimbingan dan konseling.
Fungsi pencegahan menghendaki agar
individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya,
sedangkan fungsi pengentasan menginginkan agar individu yang sudah terlanjur mengalami
masalah dapat terentaskan masalahnya.
Fungsi pemahaman memungkinkan
individu memahami berbagai informasi dan aspek lingkungan yang dapat berguna
untuk mencegah timbulnya masalah pada diri klien, dan dapat pula bermanfaat
dalam upaya pengentasan masalah yang telah terjadi. Demikian pula fungsi
pemeliharaan dapat mengarah pada tercegahnya ataupun terentaskannya
masalah-masalah tertentu.
Masalah-masalah yang diderita
individu amat bervariasi, Roos L. Mooney mengidentifikasi 330 masalah yang
digolongkan ke dalam sebelas kelompok masalah, yaitu masalah perkembangan
jasmani dan kesehatan; masalah keuangan; keadaan lingkungan dan pekerjaan;
masalah kegiatan sosial dan rekreasi; masalah hubungan muda-mudi, perkawinan,
pacaran; masalah hubungan sosial kejiwaan, masalah keadaan pribadi kejiwaan;
masalah moral dan agama; masalah keadaan rumah dan keluarga; masalah masa depan
pendidikan dan pekerjaan; masalah penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah; dan
masalah kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran.
Frekuensi dialaminya masalah-masalah
tersebut juga bervariasi. Satu jenis masalah barangkali lebih banyak dialami,
sedangkan jenis masalah lain lebih jarang muncul. Frekuensi munculnya
masalah-masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi lingkungan.
C. Ruang Lingkup Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah
1.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah biasanya masuk dalam
bidang kesiswaan, yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu
kepada pelayanan kesiswaan secara individual agar masing-masing peserta didik
dapat berkembang sesuai dengan bakat, potensi, dan minat-minatnya serta
tahap-tahap perkembangannya.
Tenaga ahli dalam bidang pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolah adalah konselor, konselor inilah yang mengendalikan dan sekaligus
melaksanakan berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang menjadi
tanggung jawabnya.
Tanggung jawab konselor di sekolah di antaranya:
a)
Tanggung
jawab konselor kepada siswa atau klien.
b)
Tanggung
jawab kepada orang tua.
c)
Tanggung
jawab kepada sejawat.
d)
Tanggung
jawab kepada sekolah dan masyarakat.
e)
Tanggung
jawab kepada diri sendiri (konselor).
f)
Tanggung
jawab kepada profesi.
2.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Luar Sekolah
Pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya ditujukan kepada
warga sekolah saja, tetapi kepada semua warga masyarakat yang di luar sekolah
pun juga berhak mendapatkan pelayanan. Banyak sekali permasalahan-permasalahan
warga masyarakat di luar sekolah yang perlu dientaskan, dan kalau mungkin
timbulnya masalah-masalah itu justru dapat dicegah.
Pelayanan bimbingan dan konseling di luar sekolah tersebut
meliputi:
a)
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling Keluarga
Keluarga merupakan satuan
persekutuan hidup yang paling mendasar
dan merupakan pangkalkehidupan bermasyarakat. Di dalam keluargalah setiap
individu memulai kehidupannya, dan di dalam keluargalah setiap individu
dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat.
Mutu kehidupan di dalam masyarakat
dan mutu suatu masyarakat itu sendiri sebagian besar ditentukan oleh mutu
keluarga-keluarga yang mendukung kehidupan masyarakat itu. Oleh karena itu,
kebutuhan dan kebahagiaan keluarga mutlak memerlukan perhatian bagi segenap
pihak yang berkepentingan dalam pengembangan kesejahteraan.
Kehidupan dan perkembangan keluarga
mengandung risiko, maka risiko itupun dapat
menimpa anggota keluarga. Menurut Palmo dkk (dalam Prayitno, 1999: 246) mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi yang secara signifikan mempengaruhi
struktur dan kondisi keluarga, yaitu meningkatnya perceraian, kedua orang tua bekerja, pengangkatan anak, emansipasi pria wanita, dan
kebebasan hubungan seksual.
Selain itu meningkatnya kesadaran
tentang anak-anak cacat, keadaan depresi dan bunuh diri, kesulitan mencari
pekerjaan dan ketidakmampuan ekonomi pada umumnya menambah
unsur-unsur yang mempengaruhi kehidupan keluarga.
Unsur-unsur yang tidak menguntungkan
itu secara langsung ataupun tidak langsung membawa pengaruh kepada anggota
keluarga, baik mereka yang sudah dewasa maupun yang masih muda, Permasalahan
yang ditimbulkan oleh pengaruh yang tidak menguntungkan itu mengundang
berperannyabimbingan dan konseling ke dalam keluarga.
b)
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan yang Lebih Luas
Permasalahan
yang dialami oleh warga masyarakat tidak hanya terjadi di sekolah dan keluarga
saja, melainkan juga di luar keduanya.
Di
lingkungan perusahaan, industri, kantor, dan lembaga kerja lainnya, organisasi
yang ada di masyarakat, dan lain sebagainya, seluruhnya tidak terhindar dari
kemungkinan menghadapi masalah. Oleh karena itu, di sana diperlukan jasa
bimbingan dan konseling.
Pelayanan
bimbingan dan konseling yang menjangkau daerah kerja yang sangat luas,
diperlukan konselor yang bersifat multidimensional. Yaitu konselor yang mampu
bekerja sama dengan berbagai komponen dan lembaga di masyarakat (Chiles &
Eiken, dalam Prayitno, 1999:247).
Konselor
yang multidimensional bekerja dengan masalah-masalah personal, emosional,
pendidikan, dan pekerjaan, yang kesemuanya itu untuk mencegah timbulnya
masalah, pengentasan masalah, dan menunjang perkembangan individu anggota
masyarakat.
Konselor
dapat bekerja di semua bidang kehidupan, mengabdikan peranan dan jasanya untuk
meningkatkan kualitas kehidupan dan sumber daya manusia, membantu individu
warga masyarakat dari berbagai umur, mencegah timbulnya masalah dan
mengentaskan berbagai masalah yang dihadapi warga masyarakat, dan menjadikan
tahap perkembangan yang mereka jalani menjadi lebih optimal.[6]
Pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolah dan madrasah mempunyai ruang lingkup yang luas dan dapat dilihat dari
berbagai segi, yaitu segi fungsi, sasaran, layanan, dan masalah.
· Segi fungsi
Ruang
lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mencakup
fungsi-fungsi: (1) pencegahan, (2) pemahaman, (3) pengentasan, (4)
pemeliharaan, (5) penyaluran, (6) penyesuaian, (7) pengembangan, dan (8)
perbaikan.
· Segi sasaran
Ruang
lingkup pelayanan bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua siswa dengan
tujuan agar siswa secara perseorangan mencapai perkembangan yang optimal melalui
kemampuan: pengungkapan, pengenalan, penerimaan diri, pengenalan lingkungan,
pengambilan keputusan, pengarahan diri dan perwujudan diri. Dalam hal tertentu,
sesuai dengan permasalahan yang dihadapi siswa, akan terdapat prioritas dalam
sasaran bimbingan dan konseling tersebut.
· Segi layanan
Ruang
lingkup pelayanan bimbingan dan konseling sekolah dan madrasah meliputi
layanan-layanan: (1) pengumpulan data, (2) pemberian informasi, (3) penempatan,
(4) konseling, (5) alih tangan kasus (referal), dan (6) penilaian dan tindak
lanjut.
· Segi masalah
Ruang
lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah meliputi: (1)
bimbingan pendidikan, (2) bimbingan karier, (3) bimbingan pribadi-sosial.
Pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolah dan madrasah juga bisa menerapkan pola 17 plus, meskipun pola ini
kecenderungannya diterapkan untuk pelayanan bimbingan konseling setting
masyarakat. Pola tersebut adalah:
· Keterpaduan yang mantap
tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan asas serta landasan bimbingan
dan konseling.
· Bidang pelayanan bimbingan
dan konseling yang meliputi:
(1)
bidang pengembangan pribadi, (2) pengembangan sosial, (3) pengembangan kegiatan
belajar, (4) pengembangan karier, (5) pengembangan kehidupan berkeluarga, dan
(6) pengembangan kehidupan beragama.
· Jenis-jenis pelayanan
bimbingan dan konseling, meliputi:
(1)
layanan orientasi, (2) layanan informasi, (3) layanan penempatan dan penyaluran,
(4) layanan penguasaan konten, (5) layanan konseling perorangan, (6) layanan bimbingan
kelompok, (7) layanan konseling kelompok, (8) layanan konsultasi, dan (9)
layanan mediasi.
· Kegiatan-kegiatan
pendukung bimbingan dan konseling, meliputi: (1) aplikasi instrumentasi, (2)
himpunan data, (3) konferensi kasus, (4) kunjungan rumah, dan (5) alih tangan
kasus.
· Format layanan,
meliputi: (1) format individual, (2) format kelompok, (3) format klasikal, (4)
format lapangan, dan (5) format politik.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bimbingan dan Konselingyaitu suatu bantuan yang diberikan oleh
konselor kepada konseli agar konseli mampu menyelesaikan masalah yang
dihadapinya dan juga mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Orientasi bimbingan
dan konseling merupakan hal apa saja yang menjadi pusat perhatian atau
titik berat pandangan konselor terhadap klien. Orientasi ini mencakup:
a.
Orientasi
Perseorangan
b.
Orientasi
Perkembangan
c.
Orientasi
Permasalahan
Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan
Madrasah
a.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Sekolah
b.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di Luar Sekolah
· Pelayanan Bimbingan dan Konseling Keluarga
· Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan yang Lebih Luas
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,Zaenal.
Alief Budiyono. 2010.Dasar-dasar Bimbingan
dan Konseling. Yogyakarta:
Grafindo Litera Media.
Halen. 2005. Bimbingan Dan
Konseling. Jakarta : Quantum Teaching
http://tholearies.blogspot.com/2014/02/bimbingan-konseling-pengertian-tujuan.html.
Diaskes pada 09 Maret 2015, pukul 10;13).
http://yogiagustina.blogspot.com. Diakses tanggal 7 Maret 2015,
pukul. 10.32.
Lesmana, Jeanette Murad. 2005. Dasar-dasar
Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mu’awanah, Elfi Rifa Hidayah. 2009.
Bimbingan Konseling Islami di Sekolah
Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ridwan. 1998. Penanganan Efektif Bimbingan dan Konseling
di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sukardi, Dewa Ketut. 2002. Bimbingan Dan Konseling. Jakarta :
Rineka Cipta.
Tohirin, 2007.Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
[1]. Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2007), hlm. 15
[2]. Ridwan, Penanganan
Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1998), hlm. 11
[3]http://tholearies.blogspot.com/2014/02/bimbingan-konseling-pengertian-tujuan.html(DI
askes pada 09 Maret 2015, pukul 10;13).
[4]Elfi Mu’awanah, Rifa
Hidayah, Bimbingan Konseling Islami di Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2009), hlm. 47
[5]Jeanette Murad
Lesmana, Dasar-dasar Konseling, (Jakarta: Universitas Indonesia Press (UI-Press),
2005), hlm. 154
[6]Zaenal Abidin, Alief
Budiyono, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (Yogyakarta: Grafindo
Litera Media, 2010), hlm 25-33
[7]Tohirin, Bimbingan
dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2007), hlm. 64-67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar