DAKWAH NABI
MUHAMMAD SAW DAN
PARA SAHABATNYA DI
MEKKAH
DisusundanDiajukanGuna untukMemenuhiTugasTerstruktur
Mata Kuliah: Materi Sejarah Kebudayaan Islam 1
DosenPengampu: Dwi Priyanto, S.Ag., M.Pd.
Oleh:
Awit Fauzan Ridlo
(1323301036)
Rizki Hidayat
(1323301030)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seiring pesatnya perkembangan zaman
terutama dalam bidang teknologi, manusia dituntut untuk selangkah lebih maju
dalam menghadapi situasi tersebut, akibat dari itu banyak dari mereka melupakan
sejarah terutama Sejarah Kebudayaan Islam yang sering disebut SKI, dengan
demikian sangat penting mengetahui sejarah terutama Sejarah tentang Kebudayaan
Islam.
Makalah yang sederhana ini akan kami paparkan beberapa pokok
bahasan yang menitik beratkan pada dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Serta makalah ini merupakan salah satu media untuk manyelaminya.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran singkat dakwah
Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya?
2. Seperti apa Nabi Muhammad serta para
sahabanya hijrah ke Habasyah dan Thaif?
3. Bagaimana memahami peristiwa Isra’
Mi’raj Nabi Muhammad SAW beserta hikmahnya?
PEMBAHASAN
A. Gambaran
Singkat Dakwah Nabi Muhammad SAW beserta Para Sahabatnya
Dakwah
Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dimulai dari lingkungan keluarga, yaitu
Khadijah, kemudian Ali bin Abi Thalib kemudian di ikuti oleh Zaid ibn Harisah,
kemudian diajaknyalah orang yang pertama kali masuk Islam dari luar keluarga,
ialah teman akrabnya, Abu Bakar ibn Abi Quhafah dari Kabilah Taim yang
dikenalnya bersih dan jujur serta dapat dipercaya. Dari Abu Bakarlah Islam
disiarkan kepada teman-temannya yang dapat dipercaya, seperti Utsman ibn
‘Affan, Abdurrahman ibn ‘Auf, Talhah ibn Ubaidillah, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan
banyak lagi. Mereka masih sembunyi-sembunyi memeluk Islam, yang dapat
berkembang karena ajaran dan teladan yang baik dari Nabi SAW.
Perjalanan
dakwah dirintis dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad sejak beliau pertama kali
menerima wahyu (QS. Al-Mudatsir) sebagai Rasul yang terakhir. Rasulullah tampil
sebagai da’i pertama di tengah-tengah masyarakat Arab Jahiliyah dengan membawa
ajaran Islam yang dianggap asing oleh masyarakat Makkah karena berlawanan
dengan keyakinan yang diwariskan nenek moyang mereka sejak bertahun-tahun
lamanya, secara turun-menurun.[1]
Dakwah
Islam dimulai di Mekkah dengan cara sembunyi-sembunyi. Dan Ibnu Ishaq
menyebutkan, dakwah dengan cara ini berjalan selama tiga tahun. Telah tertuang
dalam firman Allah dalam QS. asy-Syu’ara’: 214. Dalam kurun waktu tersebut,
Nabi SAW tidak memperlihatkan dakwahnya, kecuali kepada orangorang tertentu
saja, seperti Khadijah, Abu Bakar, Ali, Zaid. Baru setelah tiga tahun itulah,
beliau berdakwah secara terang-terangan dan kepada khalayak umum di Mekkah
selama 10 tahun.[2]
Sejak
dini Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk memberikan bimbingan dan
penyuluhan kepada umat manusia agar mereka mencapai kebenaran yang dikehendaki
Allah. Misi dakwah para Nabi yaitu:[3]
a) Menyeru umat manusia
untuk hanya beribadah (taat) kepada Allah,
hal itu telah ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Anbiya: 25
dan QS. An-Nahl: 36
b) Menyampaikan ajaran
Allah kepada Manusia, telah ditegaskan oleh
Allah dalam firman-Nya QS. Al-Ahzab: 39 dan QS. Al-Maidah: 67
c) Memberikan hidayah
kepada umat manusia, telah ditegaskan oleh Allah dalam
firman-Nya QS. Al-Qashshash: 56 dan QS. Asy-Syura: 52
d)
Memberikan
teladan yang baik, telah ditegaskan oleh Allah dalam
firman-Nya QS. Al-Ahzab: 21 dan QS. Al-An’am: 90
e)
Memperingatkan
manusia tentang kehidupan akhirat, telah
ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Ar-Rum: 7 dan QS. Al-An’am: 130
f)
Mengubah
orientasi duniawi menjadi orientasi ukhrawi,
telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Ankabut: 64
B. Hijrah
Rasulullah Ke Habasyah dan Thaif
1. Hijrah
Rasulullah ke Habasyah
Berkenaan
dengan siksaan demi siksaan yang terus menerus dilakukan kaum musyrikin kepada
orang-orang yang masuk Islam, dan juga pemboikotan yang dilakukan kaum kafir Quraisy
terhadap Rasulullah SAW dankeluarganya, maka Rasulullah SAW meminta para
sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja
Najasyi. Rasulullah SAW tahu bahwa Raja Habsyi sangat adil dan tak pernah
menganiaya kaum musliminakan aman disana, terutama keamanan sebagian besar kaum
muslimin yang mengkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum Quraisy.
Meningkatnya penganiayaan dan tekanan
kaum Musyrikin terhadap kaum Muslimin, membuat kondisi umat Islam semakin
sulit. Ummu Salamah salah seorang istri Nabi SAW dan orang yang turut serta
berhijah ke Habasyah pada Hijrah yang pertama menggambarkan sulitnya kondisi
umat Islam yang melatarbelakangi hijrah mereka ke Habasyah. Atas dasar inilah, maka muncul pemikiran untuk mempertimbangkan
rencana berhijrah mencari tempat perlindungan yang aman, yaitu ke Negeri
Habasyah.[4]
Kemudian berhijrahlah rombongan pertama
kaum muslimin yang berjumlah 14 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan
4 orang perempuan, pada tahun ke 5 bulan ke 7 (tahun 615 M) kenabian Muhammad.
Kemudian dilanjutkan dengan rombongan hijrah ke Habsy yang kedua yang secara
keseluruhan berjumlah 101 orang yang terdiri dari 83 orang laki-laki dan 18
orang perempuan, yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib ke negeri Habsyi.
2. Hijrah
Rasulullah ke Thaif
Setelah
merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy,
Rasulullah saw berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari bani
Tsaqif serta mengharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari
Allah.
Setibanya di Thaif, beliau menuju tempat
para pemuka bani Tsaqif sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah itu. Beliau
berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Akan
tetapi, ajakan beliau itu ditolak mentah dan dijawab secara kasar, kemudian
bangkit meninggalkan mereka seraya berharap supaya mereka menyembunyikan berita
kedatangan ini dari kaum Quraisy, tetapi merekapun menolaknya.
Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat
dan para budak untuk mencerca dan melempariya dengan batu sehingga
mengakibatkan cedera pada kedua kaki Rasulullah saw. Zaid bin Haritsah berusaha
keras melindungi beliau, tetapi kewalahan sehingga ia sendiri terluka pada
kepalanya.
Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu,
Rasulullah SAW meninggalkan Thaif dan kembali ke Mekkah. Ketika sampai di
Nikhlah, Rasulullah SAW bangun pada tengah malam melaksanakan shalat. Ketika
itulah beberapa makhluk yang disebutkan Allah lewat dan mendengar bacaan
Rasulullah SAW. Begitu Rasulullah SAW selesai shalat, mereka bergegas kembali
kepada kaumnya seraya memerintahkan agar beriman dan menyambut apa yang baru
mereka dengar.
Kisah mereka ini disebutkan Allah dalam
firman-Nya,“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah
mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata,
‘Sesungguhnya, kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (al-Jin
(72): 1)
Rasulullah saw bersama Zaid bin Haritsah
berangkat menuju Makkah. Saat itu, Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW,
“Bagaimana engkau hendak pulang ke Makkah, sedangkan penduduknya telah mengusir
engkau dari sana?” Beliau menjawab, “Hai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong
agama-Nya dan membela Nabi-Nya.”
Nabi SAW lalu mengutus seorang lelaki
dari bani Khuza’ah untuk menemui Muth’am bin Adi dan mengabarkan bahwa
Rasulullah SAW ingin masuk Makkah dengan “perlindungan” darinya. Keinginan Nabi
SAW diterima oleh Muth’am sehingga akhirnya Rasulullah SAW kembali ke Makkah.[5]
3. Memahami
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW beserta Hikmahnya
Secara
bahasa kata “Isra” artinya perjalanan malam, sedangkan menurut istilah Isra’
adalah perjalanan Rasulullah SAW. Pada suatu malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil ‘Aqsha di Palestina. Secara bahasa kata “Mi’raj” berarti naik atau
menuju ke atas, sedangkan menurut istilah Mi’raj adalah naiknya Rasulullah SAW.
Dari Masjidil ‘Aqsha menuju ke al ‘Arsy
(Sidratul Muntaha) untuk menghadap Allah SWT. Isra’ Mi’raj adalah pertolongan
dari Allah SWT. Untuk Nabi yang mulia ini yakni pada malam kedua puluh tujuh
Rajab tahun 621.Ketika Rasulullah sedang tertidur di rumah sepupunya, Hindun
binti Abi Talib yang dipanggil Ummu Hani’, tiba-tiba malaikat Jibril mendatangi
beliau dengan membawa Buraq, yang dapat berlari kencang laksana kilat, kemudian
malaikat Jibril menaikkan beliau di atas Buraq ini yang kemudian dari sana
beliau dinaikkan dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang agung.
Perjalanan
Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril yang pertama menuju Masjidil Aqsha di
Palestina, selama perjalanan mereka singgah di lima tempat yakni:
a. Kota
Yatsrib, sekarang disebut Madinah al-Munawarah.
b. Kota
Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa a.s ketika dikejar tentara
Fir’aun.
c. Thursina,
yaitu tempat Nabi Musa menerima kitab Taurat.
d. Beetlehem,
yaitu tempat kelahiran Nabi Isa a.s.
e. Masjidil
Aqsha di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut.
Pada
setiap persinggahan Rasulullah SAW selalu melakukan shalat dua raka’at.
Rasulullah juga disuguhi dua buah gelas yang berisi susu dan arak. Rasulullah
SAW. mengambil sebuah gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril
mengucapkan selamat kepada Rasulullah SAW, karena beliau telah memilih yang
baik bagi dirinya dan umatnya. Setelah menjadi imam shalat Rasulullah SAW
bersama Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril
singgah di tujuh lapis langit.
Setelah
melewati tujuh lapis langit tersebut Rasulullah SAW diajak ke Baitul Makmur
tempat para malaikat melaksanakan thawaf. Kemudian Rasulullah SAW naik ke
Sidratul Muntaha dan dalam perjalanan ini malaikat Jibril tidak ikut serta
Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT dalam pertemuan tersebut Allah SWT
memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan shalat sebanyak lima
puluh waktu. Ketika hendak turun, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa a.s.
dan diceritakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT. Kepada Rasulullah SAW Nabi
Musa menyuruh Rasulullah SAW untuk kembali menghadap Allah SWT untuk memohon
keringanan perintah shalat, Allah SWT memberi keringanan kepada Rasulullah SAW
menjadi 5 (lima) waktu untuk setiap harinya. Dan Allah SWT menjanjikan pahala
yang sama bagi umat Rasulullah SAW seperti melaksanakan shalat 50 waktu.
Ketika datang pagi, Rasulullah
menceritakan peristiwa yang dialami semalam kepada sepupunya bahwa ia telah
pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana. Ummu Hani’ menyarankan kepada Nabi
bahwa jangan menceritakan peristiwa itu kepada kaum Quraisy karena mereka akan
mendustakanmu, tetapi beliau harus menceritakan hal itu kepada mereka. Nabi
diisra’kan, diperjalankan dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsa di
Palestina kemudian dimi’rajkan, atau dinaikkan dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul
Muntaha dan diperlihatkan surga dan neraka serta menghadap ke hadirat Nabi SAW Mi’raj menceritakan Isra’ dan Mi’raj kepada
sahabat dekatnya, Abu Bakar, kepada umat, sebelum memberitahukan kepada umat,
dan sahabatnya itu langsung mempercayainya sehingga ia diberi gelar as-Siddiq,
yang membenarkan, sejak peristiwa itu. Peristiwa tersebut dijelaskan oleh
al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 1 yang artinya:
“Maha
Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid
al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang diberkati sekelilingnya untuk diperlihatkan
oleh-Nya sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya, sesungguhnya Ia Maha Mendengar dan
Maha Mengetahui”.[6]
4. Hikmah
Isra’ Mi’raj
Berikut
adalah beberapa hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang
diambil dari kitab sirah nabawiyah:[7]
a. Isra’
Mi’raj adalah perjalanan yang nyata, bukan perjalanan ruhani/mimpi atau
khayalan.
b. Isra’
Mi’raj adalah jamuan kemuliaan dari Allah, penghibur hati, dan pengganti dari
apa yang dialami Rasulullah SAW ketika berada di Thaif yang mendapatkan
penghinaan, penolakan dan pengusiran.
c. Isra’
bukanlah peristiwa yang sederhana tetapi peristiwa yang menampakkan ayat-ayat
(tanda-tanda kekuasaan) Allah yang paling besar.
d. Peristiwa
Isra’ Mi’raj membuktikan bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah adalah
bersifat universal.
e. Dalam
Isra’ Mi’raj diturunkannya perintah shalat wajib 5 kali dalam sehari.
KESIMPULAN
Dakwah
Rasulullah di Makkah telah membangun sistem kehidupan masyarakat manusia
terutama dalam bidang aqidah, yang pada saat itu masyarakat Arab Quraisy
menjadi penyembah berhala. Dakwah Rasul merubah sistem keyakinan terhadap
berhala (musyrik) menuju keyakinan tauhid (iman kepada Allah). Bahkan dakwah
Rasulullah telah meraih keberhasilan yang gemilang secara kualitas kerena
beliau pengikut-pengikut setianya telah teruji dengan berbagai macam cobaan dan
rintangan baik fisik maupun mental.
Dalam
melaksanakan aktivitas, Rasulullah telah menempuh tahapan-tahapan yang itu baik
dilihat dari strategis metodologis maupun pendekatan. Keberasilan dakwah
Rasulullah tidak datang dengan mudah, namun ditempuh dengan menghadapi seribu
satu macam ancaman, hambatan dan siksaan lahir dan batin. Untuk menghadapi itu
semua ditopang dengan kekuatan dan sifat batin yang kuat yakni iman yang
terpancar dari dalam jiwanya yang melahirkan sifat perilaku dan tutur kata yang
penuh hikmah yang telah melekat pada dirinya. Sehingga dalam menghadapi
berbagai macam tantangan, cobaan, dan siksaan, selalu tabah sabar dan penuh
dengan optimisme.
Dengan
realitas demikian itu, tentu saja menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan
tersendiri bagi penduduknya. Sehingga tak mengherankan bila keterikatan
pembesar Quraisy dengan bumi Mekkah menjadi semakin kuat. Dari sini dapat kita
cermati bahwa:
a.
Hijrah
ke Habasyah dan Thaif merupakan wujud upaya praktis untuk melatih jiwa agar
memprioritaskan ikatan aqidah di atas ikatan-ikatan yang lain.
b.
Penyiapan
mental untuk setiap saat meninggalkan tanah air dengan segala makna,
kepentingan, ikatan dan keistimewaannya demi menyelamatkan dan memperjuangksn
aqidahnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Amahzun,
Muhammad. 2005. Manhaj Dakwah Rasulullah.
Jakarta: Qisthi.
Mufrodi,
Ali.1997.Islam di Kawasan Kebudayaan Arab,
Jakarta: Logos.
Sa’id,
Ramadhan, al-Buthi, Muhammad. 2006.Sirah
Nabawiyah. Jakarta: Robbani.
Suisyanto.
2006.Pengantar Filsafat Dakwah. Yogyakarta:
Teras.
http://www.dakwatuna.com/2012/06/18/21114/hikmah-dibalik-peristiwa-isra-miraj-rasulullah-saw/#axzz3UW5MdByi diakses pada 16 Maret 2015, pukul
10:42
[1] Suisyanto, Pengantar Filsafat Dakwah, (Yogyakarta:
Teras, 2006), hlm. 113
[2]Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, (Jakarta:
Qisthi, 2005), hlm. 152
[3]Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), hlm. 27-34
[4]Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, hlm. 130
[5] Muhammad Sa’id Ramadhan
al-Buthi, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani,
2006), hlm. 122-125
[6] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta:
Logos, 1997), hlm. 21-22
[7]http://dakwatuna.com/2012/0618/21114/hikmah-dibalik-peristiwa-isra-miraj-rasulullah-saw/#axzz3UW5MdByi. Diakses pada 16 Maret
2015, pukul 10:42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar