Selasa, 14 April 2015



DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DAN
PARA SAHABATNYA DI MEKKAH



DisusundanDiajukanGuna untukMemenuhiTugasTerstruktur
Mata Kuliah: Materi Sejarah Kebudayaan Islam 1

DosenPengampu: Dwi Priyanto, S.Ag., M.Pd.

Oleh:
Awit Fauzan Ridlo (1323301036)
Erwin Rofi’ah (1323301039)
Rizki Hidayat (1323301030)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seiring pesatnya perkembangan zaman terutama dalam bidang teknologi, manusia dituntut untuk selangkah lebih maju dalam menghadapi situasi tersebut, akibat dari itu banyak dari mereka melupakan sejarah terutama Sejarah Kebudayaan Islam yang sering disebut SKI, dengan demikian sangat penting mengetahui sejarah terutama Sejarah tentang Kebudayaan Islam.
Makalah yang sederhana ini akan kami paparkan beberapa pokok bahasan yang menitik beratkan pada dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Serta makalah ini merupakan salah satu media untuk manyelaminya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana gambaran singkat dakwah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya?
2.      Seperti apa Nabi Muhammad serta para sahabanya hijrah ke Habasyah dan Thaif?
3.      Bagaimana memahami peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW beserta hikmahnya?











PEMBAHASAN
A.    Gambaran Singkat Dakwah Nabi Muhammad SAW beserta Para Sahabatnya
Dakwah Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dimulai dari lingkungan keluarga, yaitu Khadijah, kemudian Ali bin Abi Thalib kemudian di ikuti oleh Zaid ibn Harisah, kemudian diajaknyalah orang yang pertama kali masuk Islam dari luar keluarga, ialah teman akrabnya, Abu Bakar ibn Abi Quhafah dari Kabilah Taim yang dikenalnya bersih dan jujur serta dapat dipercaya. Dari Abu Bakarlah Islam disiarkan kepada teman-temannya yang dapat dipercaya, seperti Utsman ibn ‘Affan, Abdurrahman ibn ‘Auf, Talhah ibn Ubaidillah, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan banyak lagi. Mereka masih sembunyi-sembunyi memeluk Islam, yang dapat berkembang karena ajaran dan teladan yang baik dari Nabi SAW.
Perjalanan dakwah dirintis dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad sejak beliau pertama kali menerima wahyu (QS. Al-Mudatsir) sebagai Rasul yang terakhir. Rasulullah tampil sebagai da’i pertama di tengah-tengah masyarakat Arab Jahiliyah dengan membawa ajaran Islam yang dianggap asing oleh masyarakat Makkah karena berlawanan dengan keyakinan yang diwariskan nenek moyang mereka sejak bertahun-tahun lamanya, secara turun-menurun.[1]
Dakwah Islam dimulai di Mekkah dengan cara sembunyi-sembunyi. Dan Ibnu Ishaq menyebutkan, dakwah dengan cara ini berjalan selama tiga tahun. Telah tertuang dalam firman Allah dalam QS. asy-Syu’ara’: 214. Dalam kurun waktu tersebut, Nabi SAW tidak memperlihatkan dakwahnya, kecuali kepada orangorang tertentu saja, seperti Khadijah, Abu Bakar, Ali, Zaid. Baru setelah tiga tahun itulah, beliau berdakwah secara terang-terangan dan kepada khalayak umum di Mekkah selama 10 tahun.[2]
Sejak dini Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada umat manusia agar mereka mencapai kebenaran yang dikehendaki Allah. Misi dakwah para Nabi yaitu:[3]
a)      Menyeru umat manusia untuk hanya beribadah (taat) kepada Allah, hal itu telah ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Anbiya: 25 dan QS. An-Nahl: 36
b)      Menyampaikan ajaran Allah kepada Manusia, telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Ahzab: 39 dan QS. Al-Maidah: 67
c)      Memberikan hidayah kepada umat manusia, telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Qashshash: 56 dan QS. Asy-Syura: 52
d)      Memberikan teladan yang baik, telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Ahzab: 21 dan QS. Al-An’am: 90
e)      Memperingatkan manusia tentang kehidupan akhirat, telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Ar-Rum: 7 dan QS. Al-An’am: 130
f)        Mengubah orientasi duniawi menjadi orientasi ukhrawi, telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al-Ankabut: 64

B.     Hijrah Rasulullah Ke Habasyah dan Thaif
1.      Hijrah Rasulullah ke Habasyah
Berkenaan dengan siksaan demi siksaan yang terus menerus dilakukan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk Islam, dan juga pemboikotan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW dankeluarganya, maka Rasulullah SAW meminta para sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi. Rasulullah SAW tahu bahwa Raja Habsyi sangat adil dan tak pernah menganiaya kaum musliminakan aman disana, terutama keamanan sebagian besar kaum muslimin yang mengkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum Quraisy.
Meningkatnya penganiayaan dan tekanan kaum Musyrikin terhadap kaum Muslimin, membuat kondisi umat Islam semakin sulit. Ummu Salamah salah seorang istri Nabi SAW dan orang yang turut serta berhijah ke Habasyah pada Hijrah yang pertama menggambarkan sulitnya kondisi umat Islam yang melatarbelakangi hijrah mereka ke Habasyah. Atas  dasar inilah, maka muncul pemikiran untuk mempertimbangkan rencana berhijrah mencari tempat perlindungan yang aman, yaitu ke Negeri Habasyah.[4]
Kemudian berhijrahlah rombongan pertama kaum muslimin yang berjumlah 14 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, pada tahun ke 5 bulan ke 7 (tahun 615 M) kenabian Muhammad. Kemudian dilanjutkan dengan rombongan hijrah ke Habsy yang kedua yang secara keseluruhan berjumlah 101 orang yang terdiri dari 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan, yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib ke negeri Habsyi.
2.      Hijrah Rasulullah ke Thaif
Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy, Rasulullah saw berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif serta mengharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah.
Setibanya di Thaif, beliau menuju tempat para pemuka bani Tsaqif sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah itu. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Akan tetapi, ajakan beliau itu ditolak mentah dan dijawab secara kasar, kemudian bangkit meninggalkan mereka seraya berharap supaya mereka menyembunyikan berita kedatangan ini dari kaum Quraisy, tetapi merekapun menolaknya.
Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melempariya dengan batu sehingga mengakibatkan cedera pada kedua kaki Rasulullah saw. Zaid bin Haritsah berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya.
Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Rasulullah SAW meninggalkan Thaif dan kembali ke Mekkah. Ketika sampai di Nikhlah, Rasulullah SAW bangun pada tengah malam melaksanakan shalat. Ketika itulah beberapa makhluk yang disebutkan Allah lewat dan mendengar bacaan Rasulullah SAW. Begitu Rasulullah SAW selesai shalat, mereka bergegas kembali kepada kaumnya seraya memerintahkan agar beriman dan menyambut apa yang baru mereka dengar.
Kisah mereka ini disebutkan Allah dalam firman-Nya,“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya, kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (al-Jin (72): 1)
Rasulullah saw bersama Zaid bin Haritsah berangkat menuju Makkah. Saat itu, Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana engkau hendak pulang ke Makkah, sedangkan penduduknya telah mengusir engkau dari sana?” Beliau menjawab, “Hai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela Nabi-Nya.”
Nabi SAW lalu mengutus seorang lelaki dari bani Khuza’ah untuk menemui Muth’am bin Adi dan mengabarkan bahwa Rasulullah SAW ingin masuk Makkah dengan “perlindungan” darinya. Keinginan Nabi SAW diterima oleh Muth’am sehingga akhirnya Rasulullah SAW kembali ke Makkah.[5]
3.      Memahami Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW beserta Hikmahnya
Secara bahasa kata “Isra” artinya perjalanan malam, sedangkan menurut istilah Isra’ adalah perjalanan Rasulullah SAW. Pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil ‘Aqsha di Palestina. Secara bahasa kata “Mi’raj” berarti naik atau menuju ke atas, sedangkan menurut istilah Mi’raj adalah naiknya Rasulullah SAW. Dari Masjidil  ‘Aqsha menuju ke al ‘Arsy (Sidratul Muntaha) untuk menghadap Allah SWT. Isra’ Mi’raj adalah pertolongan dari Allah SWT. Untuk Nabi yang mulia ini yakni pada malam kedua puluh tujuh Rajab tahun 621.Ketika Rasulullah sedang tertidur di rumah sepupunya, Hindun binti Abi Talib yang dipanggil Ummu Hani’, tiba-tiba malaikat Jibril mendatangi beliau dengan membawa Buraq, yang dapat berlari kencang laksana kilat, kemudian malaikat Jibril menaikkan beliau di atas Buraq ini yang kemudian dari sana beliau dinaikkan dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang agung.
Perjalanan Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril yang pertama menuju Masjidil Aqsha di Palestina, selama perjalanan mereka singgah di lima tempat yakni:
a.       Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah al-Munawarah.
b.      Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa a.s ketika dikejar tentara Fir’aun.
c.       Thursina, yaitu tempat Nabi Musa menerima kitab Taurat.
d.      Beetlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa a.s.
e.       Masjidil Aqsha di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut.
Pada setiap persinggahan Rasulullah SAW selalu melakukan shalat dua raka’at. Rasulullah juga disuguhi dua buah gelas yang berisi susu dan arak. Rasulullah SAW. mengambil sebuah gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat kepada Rasulullah SAW, karena beliau telah memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya. Setelah menjadi imam shalat Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Rasulullah SAW. Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit.
Setelah melewati tujuh lapis langit tersebut Rasulullah SAW diajak ke Baitul Makmur tempat para malaikat melaksanakan thawaf. Kemudian Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha dan dalam perjalanan ini malaikat Jibril tidak ikut serta Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT dalam pertemuan tersebut Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan shalat sebanyak lima puluh waktu. Ketika hendak turun, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa a.s. dan diceritakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT. Kepada Rasulullah SAW Nabi Musa menyuruh Rasulullah SAW untuk kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan perintah shalat, Allah SWT memberi keringanan kepada Rasulullah SAW menjadi 5 (lima) waktu untuk setiap harinya. Dan Allah SWT menjanjikan pahala yang sama bagi umat Rasulullah SAW seperti melaksanakan shalat 50 waktu.
Ketika datang pagi, Rasulullah menceritakan peristiwa yang dialami semalam kepada sepupunya bahwa ia telah pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana. Ummu Hani’ menyarankan kepada Nabi bahwa jangan menceritakan peristiwa itu kepada kaum Quraisy karena mereka akan mendustakanmu, tetapi beliau harus menceritakan hal itu kepada mereka. Nabi diisra’kan, diperjalankan dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina kemudian dimi’rajkan, atau dinaikkan dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha dan diperlihatkan surga dan neraka serta menghadap ke hadirat Nabi SAW  Mi’raj menceritakan Isra’ dan Mi’raj kepada sahabat dekatnya, Abu Bakar, kepada umat, sebelum memberitahukan kepada umat, dan sahabatnya itu langsung mempercayainya sehingga ia diberi gelar as-Siddiq, yang membenarkan, sejak peristiwa itu. Peristiwa tersebut dijelaskan oleh al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 1 yang artinya:
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang diberkati sekelilingnya untuk diperlihatkan oleh-Nya sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya, sesungguhnya Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.[6]
4.      Hikmah Isra’ Mi’raj
Berikut adalah beberapa hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang diambil dari kitab sirah nabawiyah:[7]
a.       Isra’ Mi’raj adalah perjalanan yang nyata, bukan perjalanan ruhani/mimpi atau khayalan.
b.      Isra’ Mi’raj adalah jamuan kemuliaan dari Allah, penghibur hati, dan pengganti dari apa yang dialami Rasulullah SAW ketika berada di Thaif yang mendapatkan penghinaan, penolakan dan pengusiran.
c.       Isra’ bukanlah peristiwa yang sederhana tetapi peristiwa yang menampakkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang paling besar.
d.      Peristiwa Isra’ Mi’raj membuktikan bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah adalah bersifat universal.
e.       Dalam Isra’ Mi’raj diturunkannya perintah shalat wajib 5 kali dalam sehari.









KESIMPULAN
Dakwah Rasulullah di Makkah telah membangun sistem kehidupan masyarakat manusia terutama dalam bidang aqidah, yang pada saat itu masyarakat Arab Quraisy menjadi penyembah berhala. Dakwah Rasul merubah sistem keyakinan terhadap berhala (musyrik) menuju keyakinan tauhid (iman kepada Allah). Bahkan dakwah Rasulullah telah meraih keberhasilan yang gemilang secara kualitas kerena beliau pengikut-pengikut setianya telah teruji dengan berbagai macam cobaan dan rintangan baik fisik maupun mental.
Dalam melaksanakan aktivitas, Rasulullah telah menempuh tahapan-tahapan yang itu baik dilihat dari strategis metodologis maupun pendekatan. Keberasilan dakwah Rasulullah tidak datang dengan mudah, namun ditempuh dengan menghadapi seribu satu macam ancaman, hambatan dan siksaan lahir dan batin. Untuk menghadapi itu semua ditopang dengan kekuatan dan sifat batin yang kuat yakni iman yang terpancar dari dalam jiwanya yang melahirkan sifat perilaku dan tutur kata yang penuh hikmah yang telah melekat pada dirinya. Sehingga dalam menghadapi berbagai macam tantangan, cobaan, dan siksaan, selalu tabah sabar dan penuh dengan optimisme.
Dengan realitas demikian itu, tentu saja menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan tersendiri bagi penduduknya. Sehingga tak mengherankan bila keterikatan pembesar Quraisy dengan bumi Mekkah menjadi semakin kuat. Dari sini dapat kita cermati bahwa:
a.       Hijrah ke Habasyah dan Thaif merupakan wujud upaya praktis untuk melatih jiwa agar memprioritaskan ikatan aqidah di atas ikatan-ikatan yang lain.
b.      Penyiapan mental untuk setiap saat meninggalkan tanah air dengan segala makna, kepentingan, ikatan dan keistimewaannya demi menyelamatkan dan memperjuangksn aqidahnya.






DAFTAR PUSTAKA
Amahzun, Muhammad. 2005. Manhaj Dakwah Rasulullah. Jakarta: Qisthi.
Mufrodi, Ali.1997.Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos.
Mustafa, Yaqub, Ali. 1997.Sejarah dan Metode Dakwah Nabi. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Sa’id, Ramadhan, al-Buthi, Muhammad. 2006.Sirah Nabawiyah. Jakarta: Robbani.
Suisyanto. 2006.Pengantar Filsafat Dakwah. Yogyakarta: Teras.


[1] Suisyanto, Pengantar Filsafat Dakwah, (Yogyakarta: Teras, 2006), hlm. 113
[2]Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, (Jakarta: Qisthi, 2005), hlm. 152
[3]Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), hlm. 27-34
[4]Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, hlm. 130
[5] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani, 2006), hlm. 122-125
[6] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), hlm. 21-22